Wednesday, May 23, 2012

ADAPTASI DAN FISIOLOGI UDANG



A. Pengertian Udang, Adaptasi dan Fisiologi
1.  Udang
       Udang adalah hewan atau organisme yang hidup di perairan, khususnya sungai, laut atau danau. Udang dapat ditemukan di hampir semua genangan air yang berukuran besar baik air tawar, air payau, maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Udang biasa dijadikan makanan laut (seafood).


Gambar 1. (Kiri) Udang Windu dan (Kanan) Udang Putih

Tubuh udang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepala dan bagian badan. Bagian kepala menyatu dengan bagian dada disebut cephalothorax yang terdiri dari 13 ruas, yaitu 5 ruas di bagian kepala dan 8 ruas di bagian dada. Bagian badan dan abdomen terdiri dari 6 ruas, tiap-tiap ruas (segmen) mempunyai sepasang anggota badan (kaki renang) yang beruas-ruas pula. Pada ujung ruas keenam terdapat ekor kipas 4 lembar dan satu telson yang berbentuk runcing (Rizal, 2009).
Bentuk atau bagia-bagian dari tubuh udang dapat dilihat pada gambar berikut :


                                                        Gambar 2. Morfologi Udang

2.  Adaptasi
Adaptasi adalah cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup. Organisme yang mampu beradaptasi terhadap lingkungannya mampu untuk :
  • memperoleh air, udara dan nutrisi (makanan).
  • mengatasi kondisi fisik lingkungan seperti temperatur, cahaya dan panas.
  • mempertahankan hidup dari musuh alaminya.
  • bereproduksi.
  • merespon perubahan yang terjadi di sekitarnya.
Organisme yang mampu beradaptasi akan bertahan hidup, sedangkan yang tidak mampu beradaptasi akan menghadapi kepunahan atau kelangkaan jenis (Wikipedia, 2011).
Adaptasi terlihat dari adanya perubahan bentuk luar atau dalam suatu makhluk hidup sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan tempat hidupnya. Perubahan ini bersifat tetap dan khas untuk setiap jenis sehingga bisa diwariskan kepada keturunannya.
Adaptasi organisme terbagi atas 3 adaptasi yaitu:
a. Adaptasi Morfologi
Adaptasi morfologi merupakan penyesuaian diri makhluk hidup dengan ditandai adanya bentuk tertentu dari bagian tubuh mahkluk hidup agar dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Lingkungan hidup yang berbeda menyebabkan adaptasi morfologi yang berbeda pula (Anonim, 2010).
Perubahan ini berlangsung lambat dalam kurun waktu yang lama. Adaptasi morfologi terjadi pada hewan maupun pada tumbuhan. Adaptasi morfologi ini sangat mudah diamati, karena perubahan yang terjadi merupakan perubahan bentuk luar.
b. Adaptasi Fisiologi

Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian diri makhluk hidup melalui fungsi kerja organ-organ tubuh supaya bisa bertahan hidup. Biasanya adaptasi fisiologi tidak mudah diamati karena menyangkut fungsi alat tubuh yang meliputi fungsi fisiologi seperti reaksi kimia (biokimia) untuk membantu proses yang berlangsung di dalam tubuh.
c. Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian diri terhadap lingkungan dengan mengubah tingkah laku supaya dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya (Anam, 2012). Adaptasi tingkah laku mudah kita amati karena berupa perubahan tingkah laku untuk menyesuaikan lingkungannya agar tetap terjaga kelangsungan hidupnya.

3.  Fisiologi
       Fisiologi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari fungsi, mekanisme dan cara kerja dari organ, jaringan dan sel-sel organisme. Fisiologi menerangkan faktor-faktor fisik dan kimia yang bertanggung jawab akan asal, perkembangan, dan gerak maju kehidupan (Anonim, 2010).
B. Adaptasi Udang
1.  Adaptasi Morfologi Udang
Banyak makhluk hidup yang menyesuaikan diri terhadap lingkungan dengan cara menyesuaikan bentuk tubuhnya terhadap lingkungan. Salah satu organisme tersebut adalah udang. Dimana udang mempunyai kulit (cangkang keras) yang terbuat dari kitin, adakalanya berduri, tebal. Dengan cangkang yang keras yang dimiliki udang, tidak disukai oleh hewan predator. Hal itu disebabkan karena adanya endapan kalsium karbonat pada kutikula.
Bentuk adaptasi lainnya yaitu terdapat lima pasang kaki jalan (pereopoda), dimana pada kaki jalan pertama, kedua dan ketiga bercapit yang dinamakan chela dan berfingsi untuk mengambil makanan atau menangkap mangsanya.
Sedangkan pada bagian abdomen, terdapat lima pasang kaki renang (pleopoda) yang melekat pada ruas pertama sampai dengan ruas kelima, sedangkan pada ruas keenam, kaki renang mengalami perubahan bentuk menjadi ekor kipas (uropoda). Di antara ekor kipas terdapat ekor yang meruncing pada bagian ujungnya yang disebut telson. Dengan perubahan kaki renang ke enam tersebut maka membuat udang berenang dengan cepat (Rizal, 2009).
Bahkan terdapat udang (Cave Crayfish) yang hidup di dalam gua-gua yang dalam dan gelap. Hampir tidak ada cahaya yang mampu menembus tempat hidup mahluk ini. Lingkungan yang tampa cahaya, membuat mahluk yan hidup di lubang yang dalam dan gelap di perut bumi ini mampu beradaptasi denga Tanpa mata, tanpa pigmen, membuat mahluk ini memiliki kulit yang tembus pandang (Anonim, 2011).


 
                                                       
Gambar 3. Udang Transparan (Cave Crayfish)

Dengan kondisi tersebut, Cave Crayfish telah berkembang menjadi "troglobites": Binatang begitu tepat disesuaikan dengan hidup dalam kegelapan yang mereka tidak dapat bertahan hidup di luar lingkungan gua. Dalam kondisi tertentu mereka tidak butuh mata atau pigmentasi (Tini, 2011).

2. Adaptasi Fisiologi Udang

Daya tahan hidup udang dipengaruhi oleh olah keseimbangan osmotik antara cairan tubuh dengan air lingkungan hidupnya. Pengaturan osmotik itu dilakukan melalui mekanisme osmoregulasi.            
            Udang yang hidup di air laut memiliki pola regulasi yang sama dengan teleostei laut, yaitu regulasi hiposmotik. Hewan yang hiposmotik terhadap medianya mengalami masalah dehidrasi, karena tekanan osmotik di dalam tubuh lebih kecil dari lingkungannya sehingga air cenderung keluar ke lingkungannya. Masalah lainnya adalah garam-garam dan ion-ion akan cenderung masuk ke dalam tubuh secara difusi karena lebih besar konsentrasinya di luar tubuh. Salah satu adaptasi udang dalam mengatasi masalah dehidrasi adalah kurang permeabilitas air, sehingga dapat membatasi air yang keluar secara pasif. Adaptasi lainnya adalah dengan meminum air dari medianya, baik secara oral maupun anal (contoh: artemia). Air kemudian diserap di usus. Untuk mengatasi kelebihan garam dan ion yang masuk secara difusi, NaCl secara aktif dipompa keluar dari tubuh melalui insang.
Adaptasi fisiologi lainnya yaitu dimana udang yang hidup di laut selalu mengeluarkan urine yang lebih pekat dibandingkan dengan udang yang hidup di air tawar, hal ini dikarenakan kadar garam air laut lebih tinggi dari pada kadar garam air tawar. Tingginya kadar garam menyebabkan udang kekurangan air sehingga udang harus banyak minum. Akibatnya, kadar garam dalam darahnya menjadi tinggi sehingga untuk mengurangi kepekatan cairan dalam tubuhnya, udang akan selalu mengeluarkan urine yang pekat.
3.  Adaptasi Tingkah Laku Udang
        Salah satu adaptasi tingkah laku udang yaitu adaptasi terhadap cahaya atau bersifat fototaksis negatif (menjauhi cahaya) atau kesukaannya terhadap cahaya sangat kurang. Sehingga udang selalu aktif pada malam hari (Nokturnal) untuk mencari makan, sedangkan pada siang hari sebagian dari mereka bersembunyi di dasar perairan sehingga dapat terhindar dari kejaran predator.
            Adaptasi lainnya yaitu pada saat udang merasa terganggu udang akan melompat sejauh 20-30 cm untuk menghindar dari gangguan (Marbun, 2010).
C. Fisiologi Udang
            Secara umum udang mempunyai sifat-sifat dan tingkah laku tertentu. Berikut ini merupakan sifat dan tingkah laku udang yaitu sebagai berikut :

1.  Sifat Nokturnal

            Secara alami udang merupakan hewan nocturnal yang aktif pada malam hari
untuk mencari makan, sedangkan pada siang hari sebagian dari mereka bersembunyi di dalam substrat atau lumpur.
Menurut Powers dan Bliss (1983) dalam Marbun (2010), udang memiliki mata yang besar dan bersifat seperti lapisan pemantul cahaya, fakta yang menguatkan dugaan bahwa udang bersifat nokturnal dimana udang lebih suka muncul pada malam hari.
2. Pergantian Kulit (Molting)
Udang mempunyai kerangka luar yang tidak elastis, karena itu jika tumbuh maka ia harus membuang kerangka luarnya, dan menggantinya dengan kerangka baru. Proses pergantian kulit berlangsung secara priodik, dan lebih sering pada saat udang menjelang dewasa. Kulit luar udang tersusun dari unsur-unsur kalsium atau kapur. Karena itu pada saat pergantian kulit, ketersediaan unsur kalsium di perairan tersebut akan mendukung sekali kehidupan udang, terutama bagi udang muda yang mengalami proses pertumbuhan.
Proses moulting ini menghasilkan peningkatan ukuran tubuh (pertumbuhan) secara berkala. Ketika moulting, tubuh udang menyerap air dan bertambah besar, terjadi pengerasan kulit. Setelah kulit luarnya keras, ukuran tubuh udang tetap sampai pada siklus moulting berikutnya (Purbaya, 2011).
Pada peristiwa pergantian kulit ini, proses biokimia yang terjadi, yaitu pengeluaran (ekskresi) dan penyerapan (absorbsi) kalsium dari tubuh hewan. Kulit baru yang terbentuk berwarna pucat dan setelah 2-3 hari kemudian barulah warna semula kembali, sebabnya adalah berubahnya kualitas air ataupun karena makanan serta proses pengeluaran zat tertentu di tubuh  (Romimohtarto dan Juwana, 2007).

                                                                                                      
                                                                                                       
Gambar 4. Kulit Udang Setelah Molting

 3. Kanibalisme
            Udang suka menyerang sesamanya, udang sehat akan menyerang udang yang lemah terutama pada saat molting atau udang sakit. Sifat kanibal akan muncul terutama bila udang tersebut dalam keadaan kurang pakan dan padat tebar tinggi.
Dalam kondisi molting, udang sangat rentan terhadap serangan udang-udang lainnya, karena disamping kondisinya masih sangat lemah, kulit luarnya belum mengeras, udang pada saat molting mengeluarkan cairan molting yang mengandung asam amino, enzim dan senyawa organik hasil dekomposisi parsial eksoskeleton yang baunya sangat merangsang nafsu makan udang. Hal tersebut bisa membangkitkan sifat kanibalisme udang yang sehat.
4. Tingkah Laku Makan
Udang hidup dan mencari makan di dasar perairan (benthic). Udang merupakan hewan pemakan lambat dan terus-menerus. Udang termasuk golongan omnivora ataupun pemakan segalanya. Beberapa sumber pakan udang antara lain udang kecil (rebon), fitoplankton, copepoda, polichaeta, larva kerang dan lumut. Untuk mendeteksi sumber pakan, udang berenang menggunakan kaki jalan yang memiliki capit.